"Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan itu, antara keturunanmu dengan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya"(Kej. 3:15).
Pada waktu kami tinggal di Singapura, kucing kami
kadang-kadang membawa anak ular kobra yang diremukkannya di antara giginya dan
diletakkannya di jalan dekat pintu belakang rumah kami. Pada suatu hari kucing
itu kembali ke rumah dengan demam dan lumpuh kaki belakangnya. Ia berjuang
antara hidup dan mati selama beberapa minggu. Pada waktu ia sembuh kembali,
selama hidupnya ia terus menyeret kaki belakangnya. Kami menduga anak ular
kobra itu telah menggigitnya.
Keputusan Allah atas Setan dalam Kejadian 3:15 mengandung
kabar pengharapan yang cerah bagi umat manusia. Salah seorang dad keturunan
Hawa, "keturunan" perempuan itu, pada suatu hari akan
"meremukkan kepala" Setan, sang ular. Yesus datang ke dunia kita dan
menggenapi janji Allah, dan dengan berbuat demikian, salib di Golgota
meremukkan "tumit" Kristus. Dosa melumpuhkan untuk berbagai alasan.
Dosa menyakiti Allah. Pada waktu Adam dan Hawa berbuat dosa,
kematian Kristus menjadi suatu kepastian. Setan akan "meremukkan
tumitnya."
Dosa melukai orang lain. Sebagai akibat dari dosa Adam dan
Hawa, salah seorang dari anak mereka menjadi pembunuh, dan selurah umat manusia
terlibat dalam dosa dan penderitaan.
Ya, dosa merusakkan kita. Adam dan Hawa dan semua orang
berdosa lainnya sejak waktu itu telah mengalami kesalahan yang menyiksa, peluh
dan air mata, pertumpahan darah, depresi dan kesepian.
Demikianlah dosa melumpuhkan dan menuntun ke kayu salib.
Tetapi ayat Alkitab hari ini tidak hanya sekadar melambangkan apa kerugian yang
ditimbulkan dosa pada Allah, umat manusia, dan masing-masing kita secara
pribadi. Ayat itu juga berisi janji akan datangnya Sang Penebus yang akan mati
untuk melepaskan kita dari dosa. Kabar baik (Injil) salib memancarkan sinar
pengharapan bagimu, bagiku, bagi dunia dan bagi selurah alam semesta—karena
salib memusatkan pada satu Allah kasih yang mengampuni kita dan memberikan
kehidupan yang kekal kepada kita.— Daniel R Guild, Kabar Baik yang Abadi. Bandung, Indonesia: Indonesia Publishing
House, 2002.
No comments:
Post a Comment