"Karena di dalam Dialah telah dieiptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia " (Kol. 1:16, 17).
Pada tahun 1991 saya bersama istri berkunjung ke St.
Petersburg, Rusia, seminggu sesudah terjadi kudeta yang membawa Boris Yeltsin
menjadi orang nomor satu di Rusia. Kami pergi ke sana untuk turut ambil bagian
dalam pertemuan evangelisasi, dengan Bruce Johnson sebagai pembicara yang
menghasilkan 335 orang mengakui iman mereka dalam Yesus. Kebanyakan dari
orang-orang ini sebelumnya adalah ateis, yang tidak percaya adanya Tuhan.
Enam puluh persen dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi.
Salah seorang dari mereka yang dibaptiskan pada pertemuan
itu adalah seorang profesor di sebuah universitas yang memberikan kuliah
astronomi, ilmu perbintangan. Sesudah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya,
profesor ini, seorang wanita, memberikan kesaksian berikut: "Saya telah
menyelidiki dan mencari arti kehidupan dalam penelitian ilmiah saya, tetapi
saya tidak menemukan sesuatu yang bisa dipercayai. Para ilmuwan di sekeliling
saya merasakan kekosongan yang sama. Pada waktu saya melihat keluasan dan
kepadatan alam semesta dalam pelajaran astronomi saya, dan kekosongan jiwa
saya, saya merasa harus ada suatu arti. Kemudian saya menerima Alkitab yang
Anda berikan kepada saya dan mulai membacanya, dan kekosongan dalam hidup saya
diisi. Saya telah menerima Yesus sebagai Juruselamat saya dan telah menemukan
kedamaian, penghiburan, dan kepuasan yang sejati dalam hidup."
Mungkinkah Yesus menarik perhatian sang profesor jika
seandainya Dia hanya sekadar manusia yang lain? Mungkin tidak. Sang profesor menerima
Yesus sebagai Juruselamatnya karena Dia adalah Satu oknum yang kekal, yang
berkuasa mengampuni dosa-dosa kita dan yang memenuhi kebutuhan hati manusia.
Yesus tidak hanya menciptakan segala sesuatu di alam
semesta, Ia sudah "ada terlebih dahulu dari segala sesuatu." Bahkan,
Dia selalu ada. Dia adalah yang "AKU ADA," Allah yang kekal ada (Yoh.
8:58). Apakah bedanya hal itu bagi seorang ateis, bagimu, atau bagiku? Naluri
setiap manusia ialah merindukan Allah. Negara-negara Komunis mencoba
menghapuskan Allah dari keberadaan manusia. Allah telah tinggal dalam hati
jutaan orang-orang Komunis yang mula-mula dan iutaan yang lain di seantero
dunia. Yesus, Allah kita yang kekal, memenuhi segala kebutuhan dan kerinduan
manusia.— Daniel R Guild, Kabar Baik Yang
Abadi. Bandung, Indonesia: Indonesia Publishing House, 2002.
No comments:
Post a Comment