Tuesday, April 3, 2018

Yesus Menjembatani Jurang Dosa dan Kematian


"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak bina¬sa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16).
Produksi besar-besaran, dibuat menurut pesanan, satu-satunya jenis ini adalah istilah yang digunakan untuk menandakan nilai tambah. Lukisan minyak yang satu-satunya dalam jenis ini dilukis oleh pelukis terkenal dijual orang seharga jutaan rupiah. Yesus adalah Anak Allah yang tunggal. Alkitab Amplified Bible menerjemahkan "Anak-Nya yang tunggal" sebagai "unik." Yesus sesungguhnya adalah unik—hanya Dia satu-satunya jenis itu.

Apa yang unik pada Yesus? Ia adalah intisari kasih Allah yang diwujudkan dalam pribadi. Kasih Allah begitu mengesankan saya sehingga saya meringkaskannya dalam Alkitab saya di samping Yohanes 3:16: "Orang bisa menyia-nyiakan, menolak, mengabaikan, memukul, melukai, dan menyalibkan Kristus; dan respons-Nya satu-satunya ialah semakin lebih banyak kasih."

Jurang dosa dan kematian yang mengerikan memisahkan kita dari Allah (Yes. 59:2, 3).-Dosa dan kejahatan kita mengharuskan kita menerima kematian kekal, dan Yesus Kristus harus datang ke dunia kita ini, supaya "setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Allah berbuat lebih dari sekadar memandang dengan simpati jurang dosa dan kematian itu—Ia menjembatani jurang yang semakin melebar. Yesus datang ke dunia kita untuk mewujudkan cita-cita Allah, menyeberangi jurang, dan memulihkan hubungan kita dengan Allah. Ia menghubungkan kembali orang-orang berdosa yang diselamatkan kepada Allah mereka, membangun kembali hubungan antara diri-Nya sendiri dengan manusia yang diciptakan-Nya.

Yesus adalah jembatan yang membawa kita dari kehidupan kesia-siaan menyeberangi jurang dosa dan kematian yang mengerikan kepada kebahagiaan dan kehidupan yang kekal. Hanya bilamana jurang dosa dan kematian telah diseberangi, dan kita beijalan ke hadirat Allah, barulah kita akan memperoleh kepuasan dalam hidup. Yesus memperlihatkan hati Allah yang sakit dengan kasih kekal, pada waktu Ia berduka atas kesusahan dan masalah kita. Ia mau memuaskan kerinduan kita, menyembuhkan setiap hati yang luka dan berdarah.

Dua pekan mendatang kita akan mempelajari 14 kebenaran besar yang membuat Yesus "unik." Di atas ke-14 pilar inilah Yesus meletakkan jembatan de­ngan tubuh-Nya sendiri, yang memindahkan kita dari lingkungan kematian yang kekal kepada kehidupan baru dan kekal pada masa yang akan datang.— Daniel R Guild, Kabar Baik yang Abadi. Bandung, Indonesia: Indonesia Publishing House, 2002.

Pilar 1—Yesus Allah Kita Yang Kekal


"Karena di dalam Dialah telah dieiptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia " (Kol. 1:16, 17).
Pada tahun 1991 saya bersama istri berkunjung ke St. Petersburg, Rusia, seminggu sesudah terjadi kudeta yang membawa Boris Yeltsin menjadi orang nomor satu di Rusia. Kami pergi ke sana untuk turut ambil bagian dalam pertemuan evangelisasi, dengan Bruce Johnson sebagai pembicara yang menghasilkan 335 orang mengakui iman mereka dalam Yesus. Kebanyakan dari orang-orang ini sebelumnya adalah ateis, yang tidak percaya adanya Tuhan. Enam puluh persen dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi.

Salah seorang dari mereka yang dibaptiskan pada pertemuan itu adalah seorang profesor di sebuah universitas yang memberikan kuliah astronomi, ilmu perbintangan. Sesudah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, profesor ini, seorang wanita, memberikan kesaksian berikut: "Saya telah menyelidiki dan mencari arti kehidupan dalam penelitian ilmiah saya, tetapi saya tidak menemukan sesuatu yang bisa dipercayai. Para ilmuwan di sekeliling saya merasakan kekosongan yang sama. Pada waktu saya melihat keluasan dan kepadatan alam semesta dalam pelajaran astronomi saya, dan kekosongan jiwa saya, saya merasa harus ada suatu arti. Kemudian saya menerima Alkitab yang Anda berikan kepada saya dan mulai membacanya, dan kekosongan dalam hidup saya diisi. Saya telah menerima Yesus sebagai Juruselamat saya dan telah menemukan kedamaian, penghiburan, dan kepuasan yang sejati dalam hidup."

Mungkinkah Yesus menarik perhatian sang profesor jika seandainya Dia hanya sekadar manusia yang lain? Mungkin tidak. Sang profesor menerima Yesus sebagai Juruselamatnya karena Dia adalah Satu oknum yang kekal, yang berkuasa mengampuni dosa-dosa kita dan yang memenuhi kebutuhan hati manusia.

Yesus tidak hanya menciptakan segala sesuatu di alam semesta, Ia sudah "ada terlebih dahulu dari segala sesuatu." Bahkan, Dia selalu ada. Dia adalah yang "AKU ADA," Allah yang kekal ada (Yoh. 8:58). Apakah bedanya hal itu bagi seorang ateis, bagimu, atau bagiku? Naluri setiap manusia ialah merindukan Allah. Negara-negara Komunis mencoba menghapuskan Allah dari keberadaan manusia. Allah telah tinggal dalam hati jutaan orang-orang Komunis yang mula-mula dan iutaan yang lain di seantero dunia. Yesus, Allah kita yang kekal, memenuhi segala kebutuhan dan kerinduan manusia.— Daniel R Guild, Kabar Baik Yang Abadi. Bandung, Indonesia: Indonesia Publishing House, 2002.

Pilar 2—Yesus Pencipta Kita Yang Kekasih


Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. . . . Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh penuh kasih karunia dan kebenaran (Yohanes 1:1-14).

Dia berfirman, maka galaksi-galaksi pun bergerak ke tempatnya, bintang-bintang beredar di langit, dan planet-planet mulai mengorbit-firman yang kuasanya luar biasa, tanpa batas, dan tak terhalangi. Ia kembali berfirman, maka laut dan tanah                dipenuhi tanam-tanaman dan makhluk-makhluk, berlari, berenang, bertumbuh, dan berkembang biak—firman hidup yang menggerakkan, membuat bernapas, dan berkecambah. Sekali lagi Dia berfirman, maka dijadikan-Nya laki-laki dan perempuan, berpikir, berbicara, dan mengasihi—Firman pribadi yang mulia dan kreatif. Baka, tak terhingga, tak terbatas—Dia sudah ada, dan akan selalu ada menjadi Pencipta dan Tuhan dari segala yang ada.

"Dan kemudian ia datang dalam daging ke planet Bumi. Pencipta Yang Mahakuasa menjadi bagian dari ciptaan, yang dibatasi oleh waktu dan ruang, rentan kepada penyakit dan kematian. Tetapi kasih mendorong-Nya, dan demikianlah Ia datang untuk melepaskan dan menyelamatkan mereka yang telah hilang dan memberikan kepada mereka karunia kekekalan. Dia adalah Firman; Dia adalah Yesus."—Life Application Study, hlm. 1614.

Ketika pertama sekali saya melihat benda-benda yang dilihat oleh teleskop Hubble, saya merasa kagum dan takjub akan luasnya semesta alam. Setelah memeriksa foto-foto itu, para ahli astronomi berkesimpulan bahwa semesta alam ini mempunyai paling sedikit 125 milyar galaksi. Kita hidup dalam Galaksi Milky Way, yang mempunyai kira-kira 50 sampai 100 milyar bintang. Lalu kalikanlah dengan 125 milyar galaksi yang paling sedikit mempunyai 50 milyar bintang! Saya tidak bisa membayangkan berapa jumlah seluruh bintangnya. Dan yang paling mengherankan, Pencipta dari semua itu "menjadi Manusia dan diam di antara kita."

Pencipta kita peduli kepada masing-masing kita secara pribadi—Anda dan saya! Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari dosa dan penderitaan dan memberikan kepada kita kehidupan yang kekal, sebab Dia "penuh dengan kasih yang tidak gagal dan kesetiaan." Yesus cukup memperhatikanmu sehingga Dia mau menolongmu mengatasi masalahmu sekarang, tetapi yang jauh lebih penting ialah, Dia mau memberikan kepadamu kehidupan yang kekal.— Daniel R Guild, Kabar Baik Yang Abadi. Bandung, Indonesia: Indonesia Publishing House, 2002.

Injil Diumumkan


"Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan itu, antara keturunanmu dengan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya"(Kej. 3:15).
Pada waktu kami tinggal di Singapura, kucing kami kadang-kadang membawa anak ular kobra yang diremukkannya di antara giginya dan diletakkannya di jalan dekat pintu belakang rumah kami. Pada suatu hari kucing itu kembali ke rumah dengan demam dan lumpuh kaki belakangnya. Ia berjuang antara hidup dan mati selama beberapa minggu. Pada waktu ia sembuh kembali, selama hidupnya ia terus menyeret kaki belakangnya. Kami menduga anak ular kobra itu telah menggigitnya.

Keputusan Allah atas Setan dalam Kejadian 3:15 mengandung kabar pengharapan yang cerah bagi umat manusia. Salah seorang dad keturunan Hawa, "keturunan" perempuan itu, pada suatu hari akan "meremukkan kepala" Setan, sang ular. Yesus datang ke dunia kita dan menggenapi janji Allah, dan dengan berbuat demikian, salib di Golgota meremukkan "tumit" Kristus. Dosa melumpuhkan untuk berbagai alasan.
Dosa menyakiti Allah. Pada waktu Adam dan Hawa berbuat dosa, kematian Kristus menjadi suatu kepastian. Setan akan "meremukkan tumitnya."

Dosa melukai orang lain. Sebagai akibat dari dosa Adam dan Hawa, salah seorang dari anak mereka menjadi pembunuh, dan selurah umat manusia terlibat dalam dosa dan penderitaan.
Ya, dosa merusakkan kita. Adam dan Hawa dan semua orang berdosa lainnya sejak waktu itu telah mengalami kesalahan yang menyiksa, peluh dan air mata, pertumpahan darah, depresi dan kesepian.

Demikianlah dosa melumpuhkan dan menuntun ke kayu salib. Tetapi ayat Alkitab hari ini tidak hanya sekadar melambangkan apa kerugian yang ditimbulkan dosa pada Allah, umat manusia, dan masing-masing kita secara pribadi. Ayat itu juga berisi janji akan datangnya Sang Penebus yang akan mati untuk melepaskan kita dari dosa. Kabar baik (Injil) salib memancarkan sinar pengharapan bagimu, bagiku, bagi dunia dan bagi selurah alam semesta—karena salib memusatkan pada satu Allah kasih yang mengampuni kita dan memberikan kehidupan yang kekal kepada kita.— Daniel R Guild, Kabar Baik yang Abadi. Bandung, Indonesia: Indonesia Publishing House, 2002.